Tuan Tanah dan Tuan Bertanah


Berada pada situasi membangun setengah hati dan sepenuh hati makang puji.

Tuan tanah dan tuan bertanah menghirup nafas leluhur dan membuat horor wajah peradaban

Penonton bersorak setiap pentas panggung yang disuguhkan. Namun dibalik tirai pembatas, ada seribu siasat yang terkonsep rapi dan siap menampar.

Ohh Tuan tanah, ketika menyadari nikmatnya saloi dan peda saat di kebun maka mata tertutup dengan sendirinya ketika melewati padang buah orang lain.

Tuan Tanah dan Tuan Bertanah


Nasehat-nasehat cahaya lampu poci hilang ditelan kelapnya zaman. Sayang dan berpaling menjadi gejolak, biarlah percaya pada hati dan tindakan. Hingga menjadi arus para jiwa yang bersyahadat dan hidup.

Tak akan kelaparan di tanah sendiri, mengapa harus menjadi serigala buas di kandang emas ?

Menjadi kanibal sedarah dan pragmatis yang kronis. Ternyata selemah itu jargon perjuangan dan pertarungan yang merdeka

Musikalisasi Tuan Tanah dan Tuan Bertanah

Berlangganan update puisi terbaru via email gratis !:

Belum ada Komentar untuk "Tuan Tanah dan Tuan Bertanah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel